Jumat, 09 November 2012

Mempererat Tali Silaturrahmi


7
Kemaren adalah Grand Opening Warung Kopi Cak Wang Jl. Mastrip. Jadi saya berkunjung kesana untuk meramaikan dan juga demi secangkir kopi gratis, hehehehe,…. Warung Kopi Cak Wang Jl. Mastrip ini adalah cabang dari Warung Kopi Cak Wang Kantin FISIP UNEJ. Tapi Warung Kopi ini bukan sekedar Warung Kopi biasa lho. Saya pun terkesan ketika pertama kali mengenalnya. Saya mengenal Warung Kopi Cak Wang pertama kali dari sebuah akun twitter @Kopi_Cak_Wang . Ketika itu @Kopi_Cak_Wang sedang nge-share tentang kegiatan berbagi buku di Rumah Baca Padasan (seperti yang pernah saya tuliskan di http://catatanpasir.blogspot.com/2012/11/teman-selama-lamanya.html ) . Wah keren juga nih Cafe ngadain kegiatan sosial penggalangan buku. Langsung saja ketika itu saya ajak ketemuan, sekalipun hujan deras saya tetap berangkat ke @Kopi_Cak_Wang dan parkir ditempat yang salah, hahahaha,…. Saya pun berjalan melewati Kantin dan bertanya kepada seorang mahasiswa tentang keberadaan @Kopi_Cak_Wang kemudian si Mahasiswa itu pun menunjuk ke salah satu tempat yang ditutupi “kerreh” dan diterangi dengan lampu dop.
Ketika kemudian saya menuju kesana,…. WOW!!!,…. ramenya minta ampun sampek2 saya kebingungan untuk duduk. Dan ternyata ada seorang yang saya kenal yaitu Hanan Kukuh (yang kemudian saya sebut dengan PapaNan). akhirnya saya numpang duduk diantara mereka yang sedang maen “gaplek”. dan dibeberapa meja yang lain saling bergerombol ada yang maen catur, ada yang maen kartu remi ada pula yang mengutakatik laptopnya. Ini memang bukan Cafe tapi Warung Kopi dan Warung Kopi ini bukan sekedar Warung Kopi biasa.
Beberapa menit kemudian datanglah si pemilik Warung Kopi Cak Wang, dari awal yang saya pikir bahwa beliau ini bernama Wang atau panggilannya Cak Wang, eh ternyata namanya Rahmad atau Mas Rahmad Hidayatullah. Iya, Mas Rahmad Hidayatullah jadi “Mas” itu menyatu dengan Rahmad Hidayatullah, hehehehe,…. Karena tempat duduk penuh jadi kami pindah ke Kantin. mulailah kami mengobrol ini dan itu, ngalor ngidul yang intinya kita saling support dengan kegiatan berbagi ini.
Beberapa hari kemudian saya pun kembali ke Warung Kopi Cak Wang pada siang hari untuk mengantarkan beberapa buah buku yang akan disumbangkan di Rumah Baca Padasan. Kondisi Warung tidak terlalu ramai tapi juga tidak sepi. Terlihat dengan jelas Sebuah gambar diatas pintu dapur, Gambar avatar seorang dengan pakaian khas madura memakai kaos putih dengan tulisan Cak Wang dan dibawahnya tertulis tagline “Mempererat Tali Silaturrahmi”. Itulah Si Cak Wang, tokoh imajiner yang sengaja dibuat oleh Mas Rahmad dengan sebutan Cak Wang. Sosok seorang madura dengan nama yang njawani. Ya, mengingat Jember adalah daerah pandalungan percampuran kebudayaan Jawa dan Madura. Ketika ditanya, “Kenapa Cak Wang?” jawabannya hanya “agar mudah diingat”. Dan tagline “Mempererat Tali Silaturrahmi” itu benar adanya.
IMG_20430 IMG_2154 IMG_2151
IMG0540A
Kemudian saya pun melamunkan akan keberadaan “Break Cafe”. Ya, saya dulu pun pemilik sebuah Cafe atau lebih tepatnya Warung Kopi. Jangan tanya dimana tempatnya, karena sekarang tinggal kenangan. Sesuatu yang pahit dan harus saya kenang agar menjadi pelajaran hidup. Saya mendirikan sebuah Warung Kopi didalam Kampus dan sama dalamnya dengan lokasi Warung Kopi Cak Wang. Lalu kenapa Warung Kopi Cak Wang bisa bertahan hingga buka cabang sedangkan saya sudah hancur dalam waktu tidak sampai satu tahun. Yang pertama adalah karena saya membuka Warung Kopi itu dengan emosi dan tergesa-gesa mengingat kondisi ekonomi yang memang tidak stabil, itu kesalahan pertama. Kesalahan kedua adalah saya tidak punya teman-teman yang biasa nongkrong karena ketika itu mayoritas teman-teman saya adalah pekerja kantoran dengan usia rata-rata yang sudah hampir setengah abad padahal segmentasi pasar saya adalah para mahasiswa. Dan dua kesalahan itu sudah cukup untuk menghancurkan usaha saya.

Inilah Wajah “Break Cafe” itu


Warung Kopi Cak Wang bisa bertahan diantara Cafe-Cafe lain yang ada di Jember ini tidak lain adalah karena kekuatan pertemanan yang ada. Hingga saya sendiri pun kepincut dengan kuatnya pertemanan yang ada. Di Warung Kopi Cak Wang inilah akhirnya saya mendapatkan jaringan pertemanan yang saling terhubung antara yang satu dengan yang lain. Pertemanan adalah faktor terpenting didalam mendapatkan rejeki, apapun jenis usahanya. Maka seperti yang saya sampaikan bahwa tagline “Mempererat Tali Silaturrahmi” yang diusungnya menjadi benar adanya. Dan jangan dikira mereka yang rutin berkunjung adalah para mahasiswa, Salah besar kalau beranggapan seperti itu. Mereka yang berkunjung itu kebanyakan malah orang-orang yang sudah tidak kuliah. Di sebuah warung kopi yang kecil namun membahagiakan itu dibicarakan banyak hal oleh banyak orang, mulai dari urusan cewek, gadget, politik, bisnis, kegiatan sosial, religi bahkan akber jember pun seringkali mengadakan kelas di warung ini. Beragam orang ada disini dan semuanya adalah orang-orang yang hebat yang saya kenal.

6 8
Dan pembukaan Warung Kopi Cak Wang di Jl. Mastrip pun diramaikan oleh semua kawan-kawan. Senang bisa berada di Warung Kopi Cak Wang dan senang bisa menjadi bagian dari pertemanan yang tercipta di Warung Kopi yang Kecil tapi membahagiakan ini. Semoga bisa terus membuka cabang dimana-mana dengan tetap mengusung tagline “Mempererat Tali Silaturrahmi”.

Note:
Beberapa menu yang tersedia: Kopi Toraja, Kopi Papua, Kopi Java Arabica, Kopi Lanang, Kopi Mandailing dan beberapa kopi lain dari beberapa daerah di Indonesia. Menu yang paling unik dan paling digemari adalah Es Kopi Banjir (rasakan sensasinya). Dengan harga yang cukup murah mulai 2.000 rupiah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar